Selasa, 09 Mei 2017

Tak Boleh Menunggu di Luar

INI buku kedua “berbagi cerita berbagi hati”, setelah Mengunyah Rindu (Gramedia Pustaka Utama, 2016). Buku pertama memuat catatan harian tahun 2005–2010, sedangkan buku ini merangkum cerita-cerita tahun 2010–2014. Maka nada dasarnya pun tak berbeda: karena semua berawal dari rumah… dari keluarga.

Tentu boleh-boleh saja membaca Mengunyah Rindu tanpa membaca “Bapak Nakaaal…!”, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, sangatlah lebih afdol menikmati keduanya sebagai sebuah keutuhan: “mengunyah rindu bapak nakal” atau “bapak nakal mengunyah rindu”, beragam kisah yang bermuara pada kegembiraan, kebahagiaan, tak boleh menunggu di luar.

Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri. Ukuran:  14 x 21 cm. Tebal: 376 halaman. Harga : Rp 85.000.

Sabtu, 18 Juni 2016

Mudah Dipahami

Siapa bilang menulis puisi tak bisa diajarkan? Nyatanya, dalam buku ini, Budi Maryono sangat kekurangan halaman dalam mengajarkan. Memang cara dia mengajar tidak teoretis tetapi memberikan contoh-contoh pengalaman yang menyegarkan. Praktis, simpel, dan empiris. --- Handry Tm, penyair dan novelis

Buku ini menjadi menarik, dan tentu saja juga bermakna serta berarti, terutama karena penulisnya tidak memosisikan realitas keberadaannya sebagai guru yang sedang mengajar murid. Melainkan lebih sebagai seorang temanBaik sedang, dengan rileks, mengajak kesemua kita (yang merupakan kawan-kawan baik baginya) untuk menulis puisi dengan melibatkan hati. Itulah sebab mengapa isi buku ini sungguh mudah dipahami dan menyodorkan banyak jenis keleluasaan bagi pembaca untuk mempraktikkannya. --- Timur Suprabana, penyair dan facebooker

Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri. Ukuran:  13 x 19 cm. Tebal: 105 halaman. Harga : Rp 35.000.

Jumat, 29 April 2016

Buku Pembuka Jalan

KETIKA jalan-jalan sendiri dan melihat apapun yang mestinya kuberikan pada Tia, melihat apapun yang pernah aku janjikan namun belum kutunaikan, rindu ini segera bercampur dengan rasa bersalah dan aku bisa tak henti-henti mengunyah. Tapi alih-alih hancur, rindu dan rasa bersalah makin mengecambah. Pada saat seperti itu aku merasakan benar, cintaku padanya sangatlah dalam. Begitu dalam hingga mungkin tak selalu kelihatan (hal. 392).

Bapak. Meskipun dalam agama nilainya 1, sedangkan Ibu bernilai 3, tak lantas berarti Bapak tak berharga. Benar bahwa Ibu bernilai 3, tapi bukankah angka 3 berawal dari angka 1 yang dikalikan 3. Mengunyah Rindu memanglah sebuah curhat Bapak mengenai keluarganya, yaitu istri dan anaknya. Curhat yang barangkali mewakili perasaan para Bapak di luar sana. Curhat yang lebih banyak dipendam dan tetap menjadi teka-teki hingga sekarang, kenapa seorang Bapak lebih sedikit bicara ketimbang Ibu. Sebab apa yang disampaikan dalam buku ini bukanlah fiksi, melainkan fakta yang dikemas seperti novel. Semua tokoh dalam cerita ini begitu hidup.

Melalui buku ini pembaca disuguhkan paket lengkap, jika umumnya pada novel kita hanya digiring untuk fokus pada satu tokoh utama, tapi dalam buku ini semua adalah tokoh penting. Meskipun penulis hanya menceritakan istri dan anak-anaknya, tapi mereka bisa tampil begitu riil. Dan banyak hal yang bisa diambil sebagai manfaat, dari lima tokoh yang memiliki karakter berbeda-beda. Ada Bapak yang selalu berusaha menjadi orang paling 'yakin' meskipun ketakpastian adalah menu sehari-hari. Ibu yang selalu menjadi tempat menenangkan diri. Tia si Anak Sulung yang sangat beruntung karena memiliki Bapak yang bisa begitu "hadir" dalam hidupnya. Biru yang meskipun keras kepala, tapi penyayang. Serta Gigih, si Bungsu yang punya banyak pertanyaan di luar dugaan. 

Buku ini setidaknya akan menjadi pembuka jalan bagi siapa pun yang ingin pulang, tetapi terkendala ego dan waktu. Sebab bagaimanapun, pulang adalah hak bagi mereka yang pernah berangkat.

--review Destaayu Wulandari di goodreads.com



Penerbit: Gramedia Pustaka Utama. Ukuran:  13,5 x 20 cm. Tebal: 416 halaman. Softcover. Harga : Rp 95.000

Rabu, 08 Oktober 2014

Secantik Panggung Balet

Balet adalah keindahan. Melihat seorang ballerina menari, mata kita akan terbulai oleh perpaduan gerak gemulai sekaligus lincah menghentak. Lembutnya ayun tangan dan kuatnya pijak kaki, serta kelenturan otot sekaligus kekokohan tulang menjadi sentral tarian ini. Keindahan ini masih ditambah dengan kostum cantik, mimik nan apik, serta putaran kaki dalam posisi pointe yang akrobatik. Menguasai tarian ini bukan perkara mudah. Tak heran apabila tidak banyak orang Indonesia yang mampu menarikan balet dengan teknik yang benar serta penjiwaan yang pas. Lebih sedikit lagi yang bisa mencapai sebutan sebagai prima ballerina, sebagaimana Jetty Maika.

Jetty Maika adalah salah seorang balerina ternama di Indonesia. Murid almh. Nanny Lubis dari Namarina ini sudah malang melintang menjadi penari balet dan pengajar tari di tanah air. Berbagai panggung pementasan balet telah dijelajahinya sebagai penari utama maupun penata tari. Pengalamannya menimba ilmu tentang tari dan balet hingga ke manca negara sungguh membuka mata kita bahwa untuk bisa menari sepiawai itu dibutuhkan rasa cinta akan seni dan keindahan yang sangat besar; semangat tak kunjung padam; serta kemauan untuk bekerja keras.

Dalam menjalani pergulatan hidupnya Jetty juga tak serta merta jatuh cinta pada balet, sempat jenuh, serta pernah mempertanyakan tujuan hidupnya. Namun tak jarang Jetty yakin akan apa yang akan diraihnya melalui balet. Fokus serta cerdik menggunakan segenap daya, terutama saat segi keuangan tak lagi memadai untuk mendukung keinginannya untuk terus belajar balet, menjadi pijakan baginya untuk terus melaju.

Buku memoar seorang balerina ini akan membuka mata kita tentang perjuangan, kerja keras, dan jatuh bangun di dunia balet Indonesia, sekaligus juga suka cita, rasa bangga, dan kehidupan penuh berkat dan kebahagiaan yang menyertainya. Sebuah perjuangan yang sesungguhnya akan dialami oleh siapa pun yang telah menetapkan impian dan ingin meraihnya, apa pun yang terjadi.

Dilengkapi dengan foto-foto cantik dari pentas Jetty Maika, maupun foto-foto persembahan putrinya, Jemima Vaya, buku ini tampil secantik panggung balet dalam sebuah repertoar, sekaligus tangguh. Setangguh perjuangan para penarinya dalam mempersiapkan pertunjukan balet terbaik.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama. Ukuran: 15 x 23 c. Tebal: 168 halaman. Softcover. Harga : Rp 80.000

Selasa, 06 Agustus 2013

Segala tentang IBU

BUKU ini berisi 15 cerita tentang ibu karya 15 pengarang dengan beragam latar belakang. Ada pelajar, ada guru, ada karyawan, ada mahasiswa, ibu rumah tangga, arsitek, penjaga toko, jurnalis, aktivis LSM, dan penulis selepas mungkin. Dua cerita, "Supermom" karya Wiwien Wintarto dan "Aku Harus (Terus) Menyanyi" karya Budi Maryono, merupakan cerpen "partisipatif".

Sedangkan 13 cerpen yang lain adalah hasil seleksi naskah karya anggota grup khusus Linikreatif Workshop, "turunan" dari grup terbuka Lini-Kreatif Writing di facebook: "Hari Impian" (Nadia Agnes Rasheesa), "Rasa Gendhis" (Ama Ristiana), "Mata Emak Tertutup Rapat" (Wesiati Setyaningsih), "Malam Tanpa Mimpi" (Ismi Ahsaniyah), "Gaun Pengantin" (Wien Okta), "Tak Sehangat Matahari" (Salwa Paramitha), "Menunggu Jingga" (Mitsalina Maulida Hafizh), "Hantu Ibu" (Farida D Emmy), "(C) OVER)" (D Nugraheni), "Merayakan Kekalahan" (Irul Cepu), "Pencuri" (Eva Kusumasari), "Sulaman Bisu" (Yuktiasih Proborini), dan "Pada Ibu, pada Mami" (Nanik Hastuti).

"Ampun, Bu, jika lidahku terlalu kelu untuk mengatakannya. Namun percayalah, aku sangat menyayangimu. Andai Ibu tahu, aku masih saja heran kenapa Ayah selalu punya cara untuk menyakiti Ibu. Aku juga selalu bertanya-tanya kenapa Ibu masih kokoh tak goyah untuk bertahan dengan Ayah, meski bertubi-tubi hati terus disakiti...."

-- Mitsalina Maulida Hafizh, "Menunggu Jingga", Ibu dalam Diriku (2013:52)


 “Putriku, apa yang kauinginkan? Sebutkan saja. Akan aku lakukan asal kau sehat dan dapat tersenyum kembali. Ceria kembali. Menari-nari kembali,” jawab matahariku dengan penuh kasih sayang.

Maka kukatakan bahwa aku hanya ingin merasakan gendongan hangat Mama yang sudah hilang dari ingatanku. Matahariku terdiam. Meneteskan air mata. Aku merasa bersalah. “Nggak jadi, Ma... Nggak jadi.”


- Salwa Paramitha, "Tak Sehangat Matahari", Ibu dalam Diriku (2013:45)


 “Mamaku itu orang hebat, sebagai apa adanya dia sekarang. Tapi lebih dari kehebatannya pada apa yang tergambar lewat profesinya, she is truly an amazing and inspiring lady. No doubt about it! Dia hebat sebagai manusia. Sebagai seorang ibu. Mama yang ngasih tahu agar nggak semata-mata ngandalin harta ortu. That’s why aku bela-belain cari kerja sendiri sesuai bidang yang aku suka, yaitu jadi reporter TV. Kamu selalu bilang kagum sama aku karena aku ini tegar, kuat, nggak cengeng, nggak gampang menye-menye, kadang terlalu mandiri. Aku cuman copy-paste itu dari Mama. Bukan karena dia mengajariku untuk itu tapi aku melakukannya simply out of admiration!”

-- Wiwien Wintarto, "Supermom", Ibu dalam Diriku (2013:125)


Ukuran 13,5 x 20 cm, 135 hlm, ISBN 978-602-17414-4-3, cetakan pertama Juli 2013, penerbit Linikre@tif Publishing dan Gigih Pustaka Mandiri, harga Rp 40.000 + Rp 10.000 (ongkos kirim).

Jumat, 14 Juni 2013

Cetak Ulang!




INI buku kumpulan cerpen TERBARU-ku yang menyuguhkan berbagai persoalan SOSIAL-POLITIK, "kupersembahkan" bagi negeri yang TAK JUA BERSIH DARI KORUPSI. Foto sampul karya Rukardi Achmadi, ilustrasi setiap cerpen oleh Djoko Susilo. Harga Rp 45.000 sudah termasuk ongkos kirim ke alamat di Pulau Jawa. PEMESANAN melalui inbox facebook.com/gigihpustakamandiri atau email ke massakerah@yahoo.com. SALAM TAKZIM..

Jumat, 20 Januari 2012

Terbit Februari 2012




TANGGAL
14 Februari kita kenal sebagai Valentine's Day, Hari Kasih Sayang. Namun Valentine's Day atau bukan, 14 cerita dalam buku ini adalah penanda bahwa selama kita punya cinta dan kasih sayang, tak ada yang perlu kita takutkan.

So, bergabunglah dalam perjalanan cinta bersama para penulis teenlit: Sophie Maya, Antonius Andrie, Lea Agustina Citra, Pricillia AW, Nora Umres, Teresa Bertha, Wiwien Wintarto, Valleria Verawati, Monica Petra, Erlin Cahyadi, Esi Lahur, Janita Jaya, Christina Juzwar, dan Irena Tjiunata.

Sabtu, 30 Juli 2011

Bukan Jalan Bebas Hambatan

"CINTA yang menunggu hanya bikin hati teriris pilu. Apalagi kalau orang yang kita cintai nggak tahu.."

DALAM sebuah talk show tentang kuliah di luar negeri, Safa ketemu Abdi Gusti. Di matanya, mahasiswa Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) Singapura itu amatlah cakep dan smart. Tanpa pikir panjang, dia bertekad melepas status jomblonya dalam enam hari, sesuai dengan masa liburan Abdi di Indonesia.

Namun, jalan cinta bukanlah jalan bebas hambatan. Muncul Bara, cowok romantis yang ‘suka’ balap liar dan jatuh hati pada Safa. Muncul juga Rela, teman dekat Abdi semasa SMA yang nggak rela Abdi jatuh ke tangan Safa.

Kerumitan kian menjadi karena Diah, teman sebangku Safa, terpikat pada Bara. Deden, sahabat lekat Abdi, lama tersiksa karena cinta terpendam pada Rela. Abdi Gusti? Dia suka pada Safa, tapi ragu bilang cinta. “Aku butuh waktu untuk yakin, ini semata suka atau bener-bener cinta. Aku butuh waktu untuk yakin, kamukah kekasih yang datang tanpa diundang,” katanya ketika pamit balik ke Singapura.

Apa kata dan sikap Safa? Maukah dia ngasih waktu pada Abdi? Bagaimana pula nasib cinta Bara, Diah, Rela, dan Deden? Siapa di antara mereka yang sama-sama ‘jomblo menahun’ itu sukses bertaut rasa?

Editor’s Note
- Tema bagus, pesan mengena.

Sasaran pembaca: Remaja. Harga: Rp 38.800. Ukuran: 13.5 X 20 Cm. Tebal: 232. Terbit: 27 Juli 2011. Pemesanan & informasi: GRAMEDIA DIRECT. Telp.(62-21) 536 50 110/111 ext. 3901/3902. Email: cs@gramediashop.com.

Selasa, 23 November 2010

Untuk Yang Tak Takut Berubah

Pernikahan adalah gerbang pertaruhan antara bahagia dan derita. Surga dan neraka. Karena itu, tak boleh gegabah saat menentukan pilihan. Sekali meleset, selamanya akan tergencet sampai mencret!

RESTU memang gampang terpesona pada lelaki tampan matang, dengan usia lebih tua, tentu saja---apalagi jika lelaki itu telah berkeluarga. Wah! Pada sosok seperti itu, dia melihat kejantanan yang lengkap: lelaki, suami, dan bapak. Lucunya, pacar Restu selalu lebih muda, termasuk Doni yang amat posesif.

Pekerjaan sebagai jurnalis mempertemukan Restu dengan Damar Alam, artis yang "terlalu matang dan keren untuk dilewatkan". Mula-mula, dia hanya berani meletakkannya sebagai lelaki impian. Lama-lama, setelah Damar bercerai dan berstatus duda, Restu mengizinkan hatinya untuk bergetar. Untunglah, tak bergetar sebelah tangan.

Masalahnya, ada Doni yang tak pernah lelah cemburu. Ada Bergas, fotografer yang sudah beranak-istri namun punya hawa berdekat-dekat dengan Restu. Ada Edyna, artis sinetron yang merasa sebagai pacar Damar. Ada pula Ibu yang tak setuju anak bungsunya menikah dengan duda, sekeren-sekaya apa pun! Repotnya lagi, saat berusaha menghindari konflik, Restu justru menjadi bulan-bulanan infotainment.

Beranikah Restu berterus-terang soal hubungannya dengan Damar? Mampukah dia bermetamorfosis, dari si bungsu yang selalu dilindungi menjadi perempuan dewasa yang menentukan jalan hidupnya sendiri?

Rabu, 10 Februari 2010

Cerita Lucu, Aktivitas Seru

Lima buku cerita lucu dengan aktivitas pantun-pantunan nan seru karya Massakerah Tosin, ilustrasi top-markotop karya UD, terbitan Gramedia Pustaka Utama, beredar sejak Februari 2010. Ayo-ayo, sayang adik, sayang keponakan, sayang anak, sayang cucu...





Menghadirkan SEMAR Lagi

SETELAH Siluet Bulan Luka dan Selingkuh yang merupakan cetak dan penerbitan ulang sekaligus penyegaran tampilan buku lama, kini kami hadir...