Minggu, 13 Maret 2022

Cetak Ulang: Lebih Fresh!

Cetakan pertama tahun 2017. Setelah habis, setiap tahun ada saja yang menanyakan, kapan cetak ulang. Akhirnya, demi memenuhi keingintahuan yang belum memiliki dan membaca, cetak lagi Maret 2020 dengan sampul baru yang lebih fresh.

Catatan harian tentang keluarga, tentang hal-hal remeh dalam keseharian namun sarat makna. Itulah sebabnya menjadi
istimewa.

Dalam buku ini, si Bapak “berbagi cerita berbagi hati”: beragam kisah yang bermuara pada kesimpulan bahwa kegembiraan, kebahagiaan, tak boleh menunggu di luar.

Perempuan/istri perlu baca agar tahu tentang (pikiran) lelaki/suami. Anak perlu baca agar tahu tentang (perasaan)  bapak. Laki-laki/suami/bapak perlu baca juga agar segala pikiran dan perasaan yang selama ini terpendam,
tersalurkan.

Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri. Ukuran: 13,5 x 20 cm. Tebal: 392 halaman. Kertas isi: 57 gram. Harga: Rp 175.000.

Sabtu, 22 Mei 2021

"Mutiara" di Balik Gambar

Sebagai karya kreatif, film adalah cermin yang merefleksikan (nilai-nilai) kehidupan. Karena itu, di luar sisi hiburan, kita bisa memetik apa pun dari sana, antara lain inspirasi, motivasi, dan hikmah --meski tidak selalu langsung tertangkap dengan mudah.

Esai-esai pendek dalam buku ini merupakan salah satu upaya menemukan “mutiara” di balik gambar dan cerita.


Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri. Ukuran: 13,5 x 20 cm. Tebal: 156 halaman. Kertas isi: 72 gram. Harga: Rp 75. 000.   

 

Kamis, 04 Juni 2020

Dokumentasi Jejak atau Tanda

INI semacam pendokumentasian ulang karya-karya awal kepengarangan sebagai jejak atau tanda. Karena itulah saya tidak memesan gambar baru untuk ilustrasi sampul buku. Saya pilih karya Mas Goen yang dulu menjadi ilustrasi cerita pendek “Ustad Salim Menangis”. Kenapa? Sebab sejak termuat bersama di tabloid Cempaka edisi 2018/V/2-8 Juni 1993, saya “jatuh cinta” pada gambar itu. Dan kalau boleh “agak-agak gimana gitu”, inilah salah satu cara saya mengekspresikan kekaguman dan penghormatan kepada Mas Goen, Sang Empu Kartun.

Alhamdulillah, kliping yang hampir 30 tahun tersimpan bermetamorfosis (lagi) menjadi buku. Semoga (masih) memberikan sesuatu kepada siapa saja, terutama bagi pembaca yang bahkan belum lahir atau masih kanak-kanak saat cerita-cerita ini kali pertama hadir. 

Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri. Ukuran: 13,5 x 20 cm. Tebal: 98 halaman. Kertas isi: 70 gr. Harga: Rp 65.000. 

Rabu, 04 Maret 2020

Cetakan Ketiga "Jalan untuk Ingat"

 SEPERTI tasbih, kitab kecil ini berisi 99 butir puisi yang terbagi menjadi tiga kombinasi kata: 33 “mau-asal”, 33 “rela-agar”, dan 33 “pasrah-karena”. Meski atau justru karena pendek-pendek, bisa menjadi semacam jalan untuk senantiasa “ingat”.

Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri. Ukuran: 14 x 14 cm. Tebal: 100 halaman. Harga: Rp 35.000. Cetakan Ketiga: Agustus 2019.

Rabu, 06 Februari 2019

Untuk Yang Tak Jemu Merindu


LIMA puluh puisi yang terkumpul dalam buku ini bernada dasar cinta dan rindu. Beragam cinta, beragam rindu. Persembahan istimewa untuk siapa pun yang tak jemu merindu. Terkemas sebagai buku saku hard cover, isi berhias foto dan gambar untuk "penguat kesan puitis".

Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri. Ukuran:  11 x 18 cm. Tebal: 100 halaman. Hardcover. Harga : Rp 65.000. Terbit 11 Februari 2019


Senin, 15 Januari 2018

Perselingkuhan yang Tak Biasa

SEBAGAIMANA ibu dan istri yang baik, Mini sangat mencintai anak dan suami. Karena itu, ketika keadaan benar-benar mengharuskan, dia rela berkorban untuk mereka dengan bekerja di Hongkong, menjadi buruh migran, demi masa depan.
Sejak awal tentu saja Mini berniat kuat untuk pulang. Apalagi saat hari keberangkatan, susah-payah dia melepaskan diri dari kelengketan peluk-cium Imin, Muhaimin, si sulung yang baru masuk sekolah dasar dan Atik, Wardatik, si bayi dua tahun yang baru saja dia sapih.
Namun hidup selalu punya belokan yang sering tidak kelihatan di peta rencana. Satu bulan menjelang masa kerja dua tahun habis, Mini menelepon, meminta izin Kardi, suaminya, untuk memperpanjang kontrak dua tahun lagi. ”Pulanglah, Ni... Gak kangen arek-arek ta?” pinta Kardi, menyembunyikan kerinduan sendiri.
”Yo kangen se, Cak. Kangen arek-arek, kangen sampean. Kangen seru. Tapi majikanku ini baik, Cak. Marah cuma kadang-kadang. Gak seperti majikan Yuk Sema, temanku di sini, kuejem temenan. Mumpung dapat majikan baik, Cak... aku teruskan saja kontraknya. Tambah dua tahun biar tabungan kita makin banyak untuk modal usaha, biar aku gak kembali ke sini lagi.”
Mini memang tak tersandung masalah selama bekerja di Hongkong, namun begitu masa kontrak kedua habis dan pulang, dia menghadapi kenyataan tak terduga: suaminya berubah! Mini pun terjebak antara bertahan di rumah, di kampung halaman, atau balik ke negeri orang… 

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama. Ukuran:  13,5 x 20 cm. Tebal: 200 halaman. Softcover. Harga : Rp 55.000 

Rabu, 11 Oktober 2017

Lebih Melekat di Benak

DUA puluh tulisan yang terkumpul dalam buku ini merupakan “sketsa keluarga”. Dengan tokoh sentral pasangan Daim dan Ninik, cerita berkisar pada kejadian dan persoalan keseharian plus bumbu
perenungan.

Ada persoalan tentang anak, teman, tetangga, sekolah, ada pula tentang pembantu rumah tangga. Hampir semua berangkat dari kejadian nyata namun terolah sedemikian rupa menjadi semacam cerita pendek, sehingga pesan dan kesan terasa lebih melekat di benak.

Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri. Ukuran:  13,5 x 20 cm. Tebal: 126 halaman. Harga: Rp 50. 000.

Selasa, 09 Mei 2017

Tak Boleh Menunggu di Luar

INI buku kedua “berbagi cerita berbagi hati”, setelah Mengunyah Rindu (Gramedia Pustaka Utama, 2016). Buku pertama memuat catatan harian tahun 2005–2010, sedangkan buku ini merangkum cerita-cerita tahun 2010–2014. Maka nada dasarnya pun tak berbeda: karena semua berawal dari rumah… dari keluarga.

Tentu boleh-boleh saja membaca Mengunyah Rindu tanpa membaca “Bapak Nakaaal…!”, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, sangatlah lebih afdol menikmati keduanya sebagai sebuah keutuhan: “mengunyah rindu bapak nakal” atau “bapak nakal mengunyah rindu”, beragam kisah yang bermuara pada kegembiraan, kebahagiaan, tak boleh menunggu di luar.

Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri. Ukuran:  14 x 21 cm. Tebal: 376 halaman. Harga : Rp 85.000.

Sabtu, 18 Juni 2016

Mudah Dipahami

Siapa bilang menulis puisi tak bisa diajarkan? Nyatanya, dalam buku ini, Budi Maryono sangat kekurangan halaman dalam mengajarkan. Memang cara dia mengajar tidak teoretis tetapi memberikan contoh-contoh pengalaman yang menyegarkan. Praktis, simpel, dan empiris. --- Handry Tm, penyair dan novelis

Buku ini menjadi menarik, dan tentu saja juga bermakna serta berarti, terutama karena penulisnya tidak memosisikan realitas keberadaannya sebagai guru yang sedang mengajar murid. Melainkan lebih sebagai seorang temanBaik sedang, dengan rileks, mengajak kesemua kita (yang merupakan kawan-kawan baik baginya) untuk menulis puisi dengan melibatkan hati. Itulah sebab mengapa isi buku ini sungguh mudah dipahami dan menyodorkan banyak jenis keleluasaan bagi pembaca untuk mempraktikkannya. --- Timur Suprabana, penyair dan facebooker

Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri. Ukuran:  13 x 19 cm. Tebal: 105 halaman. Harga : Rp 35.000.

Jumat, 29 April 2016

Buku Pembuka Jalan

KETIKA jalan-jalan sendiri dan melihat apapun yang mestinya kuberikan pada Tia, melihat apapun yang pernah aku janjikan namun belum kutunaikan, rindu ini segera bercampur dengan rasa bersalah dan aku bisa tak henti-henti mengunyah. Tapi alih-alih hancur, rindu dan rasa bersalah makin mengecambah. Pada saat seperti itu aku merasakan benar, cintaku padanya sangatlah dalam. Begitu dalam hingga mungkin tak selalu kelihatan (hal. 392).

Bapak. Meskipun dalam agama nilainya 1, sedangkan Ibu bernilai 3, tak lantas berarti Bapak tak berharga. Benar bahwa Ibu bernilai 3, tapi bukankah angka 3 berawal dari angka 1 yang dikalikan 3. Mengunyah Rindu memanglah sebuah curhat Bapak mengenai keluarganya, yaitu istri dan anaknya. Curhat yang barangkali mewakili perasaan para Bapak di luar sana. Curhat yang lebih banyak dipendam dan tetap menjadi teka-teki hingga sekarang, kenapa seorang Bapak lebih sedikit bicara ketimbang Ibu. Sebab apa yang disampaikan dalam buku ini bukanlah fiksi, melainkan fakta yang dikemas seperti novel. Semua tokoh dalam cerita ini begitu hidup.

Melalui buku ini pembaca disuguhkan paket lengkap, jika umumnya pada novel kita hanya digiring untuk fokus pada satu tokoh utama, tapi dalam buku ini semua adalah tokoh penting. Meskipun penulis hanya menceritakan istri dan anak-anaknya, tapi mereka bisa tampil begitu riil. Dan banyak hal yang bisa diambil sebagai manfaat, dari lima tokoh yang memiliki karakter berbeda-beda. Ada Bapak yang selalu berusaha menjadi orang paling 'yakin' meskipun ketakpastian adalah menu sehari-hari. Ibu yang selalu menjadi tempat menenangkan diri. Tia si Anak Sulung yang sangat beruntung karena memiliki Bapak yang bisa begitu "hadir" dalam hidupnya. Biru yang meskipun keras kepala, tapi penyayang. Serta Gigih, si Bungsu yang punya banyak pertanyaan di luar dugaan. 

Buku ini setidaknya akan menjadi pembuka jalan bagi siapa pun yang ingin pulang, tetapi terkendala ego dan waktu. Sebab bagaimanapun, pulang adalah hak bagi mereka yang pernah berangkat.

--review Destaayu Wulandari di goodreads.com



Penerbit: Gramedia Pustaka Utama. Ukuran:  13,5 x 20 cm. Tebal: 416 halaman. Softcover. Harga : Rp 95.000

Rabu, 08 Oktober 2014

Secantik Panggung Balet

Balet adalah keindahan. Melihat seorang ballerina menari, mata kita akan terbulai oleh perpaduan gerak gemulai sekaligus lincah menghentak. Lembutnya ayun tangan dan kuatnya pijak kaki, serta kelenturan otot sekaligus kekokohan tulang menjadi sentral tarian ini. Keindahan ini masih ditambah dengan kostum cantik, mimik nan apik, serta putaran kaki dalam posisi pointe yang akrobatik. Menguasai tarian ini bukan perkara mudah. Tak heran apabila tidak banyak orang Indonesia yang mampu menarikan balet dengan teknik yang benar serta penjiwaan yang pas. Lebih sedikit lagi yang bisa mencapai sebutan sebagai prima ballerina, sebagaimana Jetty Maika.

Jetty Maika adalah salah seorang balerina ternama di Indonesia. Murid almh. Nanny Lubis dari Namarina ini sudah malang melintang menjadi penari balet dan pengajar tari di tanah air. Berbagai panggung pementasan balet telah dijelajahinya sebagai penari utama maupun penata tari. Pengalamannya menimba ilmu tentang tari dan balet hingga ke manca negara sungguh membuka mata kita bahwa untuk bisa menari sepiawai itu dibutuhkan rasa cinta akan seni dan keindahan yang sangat besar; semangat tak kunjung padam; serta kemauan untuk bekerja keras.

Dalam menjalani pergulatan hidupnya Jetty juga tak serta merta jatuh cinta pada balet, sempat jenuh, serta pernah mempertanyakan tujuan hidupnya. Namun tak jarang Jetty yakin akan apa yang akan diraihnya melalui balet. Fokus serta cerdik menggunakan segenap daya, terutama saat segi keuangan tak lagi memadai untuk mendukung keinginannya untuk terus belajar balet, menjadi pijakan baginya untuk terus melaju.

Buku memoar seorang balerina ini akan membuka mata kita tentang perjuangan, kerja keras, dan jatuh bangun di dunia balet Indonesia, sekaligus juga suka cita, rasa bangga, dan kehidupan penuh berkat dan kebahagiaan yang menyertainya. Sebuah perjuangan yang sesungguhnya akan dialami oleh siapa pun yang telah menetapkan impian dan ingin meraihnya, apa pun yang terjadi.

Dilengkapi dengan foto-foto cantik dari pentas Jetty Maika, maupun foto-foto persembahan putrinya, Jemima Vaya, buku ini tampil secantik panggung balet dalam sebuah repertoar, sekaligus tangguh. Setangguh perjuangan para penarinya dalam mempersiapkan pertunjukan balet terbaik.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama. Ukuran: 15 x 23 c. Tebal: 168 halaman. Softcover. Harga : Rp 80.000

Menghadirkan SEMAR Lagi

SETELAH Siluet Bulan Luka dan Selingkuh yang merupakan cetak dan penerbitan ulang sekaligus penyegaran tampilan buku lama, kini kami hadir...