Jumat, 20 Januari 2012

Terbit Februari 2012




TANGGAL
14 Februari kita kenal sebagai Valentine's Day, Hari Kasih Sayang. Namun Valentine's Day atau bukan, 14 cerita dalam buku ini adalah penanda bahwa selama kita punya cinta dan kasih sayang, tak ada yang perlu kita takutkan.

So, bergabunglah dalam perjalanan cinta bersama para penulis teenlit: Sophie Maya, Antonius Andrie, Lea Agustina Citra, Pricillia AW, Nora Umres, Teresa Bertha, Wiwien Wintarto, Valleria Verawati, Monica Petra, Erlin Cahyadi, Esi Lahur, Janita Jaya, Christina Juzwar, dan Irena Tjiunata.

Sabtu, 30 Juli 2011

Bukan Jalan Bebas Hambatan

"CINTA yang menunggu hanya bikin hati teriris pilu. Apalagi kalau orang yang kita cintai nggak tahu.."

DALAM sebuah talk show tentang kuliah di luar negeri, Safa ketemu Abdi Gusti. Di matanya, mahasiswa Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) Singapura itu amatlah cakep dan smart. Tanpa pikir panjang, dia bertekad melepas status jomblonya dalam enam hari, sesuai dengan masa liburan Abdi di Indonesia.

Namun, jalan cinta bukanlah jalan bebas hambatan. Muncul Bara, cowok romantis yang ‘suka’ balap liar dan jatuh hati pada Safa. Muncul juga Rela, teman dekat Abdi semasa SMA yang nggak rela Abdi jatuh ke tangan Safa.

Kerumitan kian menjadi karena Diah, teman sebangku Safa, terpikat pada Bara. Deden, sahabat lekat Abdi, lama tersiksa karena cinta terpendam pada Rela. Abdi Gusti? Dia suka pada Safa, tapi ragu bilang cinta. “Aku butuh waktu untuk yakin, ini semata suka atau bener-bener cinta. Aku butuh waktu untuk yakin, kamukah kekasih yang datang tanpa diundang,” katanya ketika pamit balik ke Singapura.

Apa kata dan sikap Safa? Maukah dia ngasih waktu pada Abdi? Bagaimana pula nasib cinta Bara, Diah, Rela, dan Deden? Siapa di antara mereka yang sama-sama ‘jomblo menahun’ itu sukses bertaut rasa?

Editor’s Note
- Tema bagus, pesan mengena.

Sasaran pembaca: Remaja. Harga: Rp 38.800. Ukuran: 13.5 X 20 Cm. Tebal: 232. Terbit: 27 Juli 2011. Pemesanan & informasi: GRAMEDIA DIRECT. Telp.(62-21) 536 50 110/111 ext. 3901/3902. Email: cs@gramediashop.com.

Selasa, 23 November 2010

Untuk Yang Tak Takut Berubah

Pernikahan adalah gerbang pertaruhan antara bahagia dan derita. Surga dan neraka. Karena itu, tak boleh gegabah saat menentukan pilihan. Sekali meleset, selamanya akan tergencet sampai mencret!

RESTU memang gampang terpesona pada lelaki tampan matang, dengan usia lebih tua, tentu saja---apalagi jika lelaki itu telah berkeluarga. Wah! Pada sosok seperti itu, dia melihat kejantanan yang lengkap: lelaki, suami, dan bapak. Lucunya, pacar Restu selalu lebih muda, termasuk Doni yang amat posesif.

Pekerjaan sebagai jurnalis mempertemukan Restu dengan Damar Alam, artis yang "terlalu matang dan keren untuk dilewatkan". Mula-mula, dia hanya berani meletakkannya sebagai lelaki impian. Lama-lama, setelah Damar bercerai dan berstatus duda, Restu mengizinkan hatinya untuk bergetar. Untunglah, tak bergetar sebelah tangan.

Masalahnya, ada Doni yang tak pernah lelah cemburu. Ada Bergas, fotografer yang sudah beranak-istri namun punya hawa berdekat-dekat dengan Restu. Ada Edyna, artis sinetron yang merasa sebagai pacar Damar. Ada pula Ibu yang tak setuju anak bungsunya menikah dengan duda, sekeren-sekaya apa pun! Repotnya lagi, saat berusaha menghindari konflik, Restu justru menjadi bulan-bulanan infotainment.

Beranikah Restu berterus-terang soal hubungannya dengan Damar? Mampukah dia bermetamorfosis, dari si bungsu yang selalu dilindungi menjadi perempuan dewasa yang menentukan jalan hidupnya sendiri?

Rabu, 10 Februari 2010

Cerita Lucu, Aktivitas Seru

Lima buku cerita lucu dengan aktivitas pantun-pantunan nan seru karya Massakerah Tosin, ilustrasi top-markotop karya UD, terbitan Gramedia Pustaka Utama, beredar sejak Februari 2010. Ayo-ayo, sayang adik, sayang keponakan, sayang anak, sayang cucu...





Kamis, 04 Februari 2010

Belajar Nulis sambil Haha-hihi


TIPS menulis cerpen dengan bahasa dan bahasan yang sangat ringan. Penulis pemula dan remaja pada umumnya akan sangat terbantu oleh buku ini. Begitupun para orang tua, guru, dan dosen Bahasa/Sastra Indonesia yang sering kesulitan menyampaikan pelajaran mengarang dengan cara yang "menggugah selera".

---------

Bersegeralah jadi murid ketika bertemu buku ini, karena ia perwujudan pengalaman seorang penulis, redaktur, dan blogger yang hobi berbagi. Buku ini dikodratkan menjadi teman setia bagi siapa pun yang hendak atau sedang berproses menjadi penulis. Sebagaimana teman setia, ia hadir dan menjawab ketika kita terimpit kesulitan, terutama saat menggeluti kata agar lebih bermakna.

Doni Riadi
Guru Sekolah Alam Ar-Ridho Semarang

----------

Bahasanya lugas dan ringan dengan selingan humor yang nggak garing hingga transfer ilmu berjalan lancar. Nggak berkesan menggurui dan nggak mbosenin. Simpel tapi sarat ilmu. Pas dengan selera remaja yang punya semangat membara untuk bisa nulis dengan baik.

Mitsalina M Hafizh
Mahasiswi Universitas Diponegoro Semarang

Rabu, 27 Januari 2010

Bertukar Pikiran tentang Cinta

Oleh Andina Dwifatma

Bagaimanakah kiranya sebuah kisah cinta musti terjalin? Apakah berawal dari pertemuan, sedikit rayuan, membina hubungan, lantas berakhir dengan pernikahan? Bagi Budi Maryono, persoalannya tidaklah sesederhana itu. Di tangannya, kisah cinta bukanlah dongeng yang selalu berakhir bahagia. Bahkan bisa saja tidak usah, dan tidak perlu, berakhir.

Ini ditunjukkannya dengan jelas lewat buku Di Kereta, Kita Selingkuh. Kumpulan cerpen berisi dua puluh cerita ini adalah buku ketiga Budi setelah Siluet Bulan Luka dan Tamu-tamu Allah. Dalam buku ini Budi memotret kisah-kisah cinta yang bisa kita pisahkan menjadi dua bagian. Pertama, kisah cinta orang-orang yang (seolah-olah) tidak berhak untuk jatuh cinta; kedua, kisah cinta orang-orang yang tidak mengerti bentuk cinta seperti apa yang sebenarnya mereka cari.

Siapakah orang-orang yang (seolah-olah) tidak berhak untuk jatuh cinta? Dalam cakrawala imajinasi seorang Budi Maryono, rupanya banyak macamnya: mereka yang sudah berkeluarga (“Bulan Ratih”, “Binar Mata Dinar”, “Di Kereta, Kita Selingkuh”, “Sepasang Cappuccino”), kaum homoseksual (“Kau Tikam Aku Persis di Jantung”), juga waria (“Sekuntum Mawar”).

Ketidakbolehan untuk jatuh cinta ini, kita mafhum, datang dari norma. Seseorang yang sudah menikah tidak layak jatuh cinta lagi, sama seperti laki-laki yang seharusnya mencintai perempuan, bukan sesama jenisnya sendiri. Sementara sosok waria, tanpa perlu jatuh cinta pun sudah selalu dipinggirkan.

Budi Maryono kemudian mempertanyakan kehadiran norma-norma tersebut. Apakah kecenderungan norma untuk membelenggu perasaan manusia dapat dikatakan adil? Efektifkah kerja norma? Bagaimana manusia menyesuaikan diri dengan norma yang melingkupinya? Kontemplasi Budi mengenai hal ini banyak diwujudkan dalam bentuk-bentuk dialog. Menariknya, dialog ini tidak harus manusia dengan manusia. Ada kalanya tokoh manusia berdialog dengan Daun (dengan ‘D’ besar, “Matahari Indri”), atau dengan Sekuntum Mawar (juga dengan ‘S’ dan ‘M’ besar, “Sekuntum Mawar”). Di sinilah letak elaborasi diskursus cinta yang ditawarkan Budi: bahwa ia tidak hanya bisa didiskusikan antarmanusia saja. Huruf-huruf besar yang diletakkannya di awal nama daun dan mawar adalah bentuk personifikasi. Jika cinta dirasakan oleh setiap makhluk hidup, maka tumbuh-tumbuhan bisa saja jadi partner manusia untuk bertukar pikiran mengenainya. Kenapa tidak?

Satu hal yang menarik untuk diamati adalah bahwa melalui cerpen-cerpennya yang selalu dialogis itu, Budi ternyata tidak sedang berusaha mencari kesimpulan tertentu tentang cinta. Ia tidak mengambil sikap bahwa cinta seharusnya begini, atau seharusnya begitu. Ini dapat dilihat antara lain lewat cerita “Bulan Ratih” dan “Sepasang Cappuccino”. Dua cerita ini sama-sama berkisah tentang orang yang sudah berkeluarga, tapi ketiban cinta lagi. Tokoh pria (yang kebetulan penyair) dalam cerita pertama memutuskan untuk kabur di detik terakhir karena ingat anak dan istri, sementara karakter suami dari cerita kedua menyerah pasrah begitu saja dalam pelukan pacar lama yang ternyata masih enak juga. Ini dua akhir cerita yang berbeda, menggambarkan dua pandangan moral yang berbeda, dan barangkali saja merefleksikan keabu-abuan penulisnya dalam memandang pertanyaan mahaklasik: apakah cinta monogamis itu mungkin?

Sayangnya, kecenderungan Budi untuk menempatkan sudut pandangnya dalam area abu-abu, dan karenanya membuat diskursus cinta jadi tidak membosankan, sedikit goyah ketika bicara cinta kaum homoseksual dan waria. Cerita “Kau Tikam Aku Persis di Jantung”, meskipun judulnya berhasil memukau saya karena luar biasa licin, tetap mengandung ‘stereotipe’ bahwa jalinan cinta antarsesama jenis selalu melibatkan kekerasan fisik yang tidak tanggung-tanggung. Sementara kisah cinta waria dengan seorang pria tampan yang ternyata hanya main-main dengannya (“Sekuntum Mawar”), bukankah sudah sering kita dengar?

Golongan yang kedua, yaitu orang-orang yang tidak mengerti bentuk cinta seperti apa yang sebenarnya mereka cari, mendapat porsi cukup besar dalam buku ini. Menjadi menarik karena Budi menyuguhkan kebingungan dan kebimbangan tokoh-tokohnya dalam balutan pertanyaan paling hakiki dalam sejarah eksistensi manusia: siapa saya?

Salah satu cerita yang memukau adalah “Ros Tak Pulang Lagi”. Ini adalah cerita tentang seseorang yang ragu akan orientasi seksualnya. Ia rindu Tuhan, tapi ragu apakah dirinya pantas menginjakkan kaki ke rumah ibadah. Ia kemudian memproyeksikan rasa rindu dan bimbangnya ini dengan berdialog dengan dirinya sendiri semasa kecil (“Aku tak mau teman-teman berteriak, ‘Banci ngaji, banci ngaji!’ sambil memeletkan lidah.”, halaman 125).

Di sinilah terasa keberhasilan Budi untuk meramu antara cinta, rindu, dan kebingungan yang menimpa karakter rekaannya. Bayangan masa lalu memanggil-manggil tokoh Ros untuk beribadah, memompa adrenalinnya sehingga ia cukup berani untuk melangkahkan kaki ke mushola (meski bingung mau pakai sarung atau mukena), tapi pertanyaan tentang identitas diri lantas merubuhkan semua kepercayaan dirinya. Di luar akhir cerita di mana Ros akhirnya bunuh diri, menurut saya ini adalah salah satu cerita terbaik dalam kumpulan cerpen ini.

Benang merah buku ini ada pada pertanyaan tentang komitmen. Ketika seorang suami jatuh cinta pada istri orang, apakah ia sedang mengkhianati komitmen pernikahan? Ketika seorang lelaki ingin menjadi perempuan, apakah ia sedang mengkhianati komitmen penciptaannya dengan Tuhan? Pada titik inilah kata ‘selingkuh’, yang merupakan satu-satunya kata tercetak dalam huruf kapital pada sampul buku, memperoleh relevansinya yang paling dalam.